Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Oktober 2019

Kabinet Jokowi Tak Lepas dari Mega Paloh

Kabinet Jokowi Tak Lepas dari Mega Paloh

oleh : Rg Bagus Warsono

Dua orang2 kuat berpengalaman. Saat ini hny PDI dan Nasdem yaitu PDI memiliki Megawati dan Nasdem mempunyai Surya Paloh. Dua orang ini praktis menempati posisi politikus di luar zaman ini. keduanya adalah tokoh yg mengalami banyak kejadian politik negeri ini . Disamping itu keduanya memiliki kecerdasan dan nalar politik di atas politikus di partai partai lainnya.

Golkar sendiri kini hanya dari kalangan muda. Pengganti Yusuf Kalla yg setara Megawati dan Surya Paloh belum tampak. Golkar yang berada dalam genggaman generasi muda tidak menjadi penghambat bagi Surya Paloh dan Megawati.

di Partai Demokrat ada SBY yg setara Megawati dan Surya Paloh, namun pengalaman SBY yg lama di militer dan cenderung dimasa mudanya yg berkutat di militer malah kuat dalam kebijakan2 pilitiknya dalam tubuh partainya sendiri.. SBY kadang lugu dan memandang pelaksanaan sesuai apa yang diperintah atai dalam perjanjian.

Dua orang tua yang penuh dengan pengalaman ini seakan menjadi tanpa tandingan dan bahkan mereka dapat memainkan peranannya termasuk kepada presiden yang notabene adalah anggota PDI Perjuangan. Sedang Surya Paloh termasuk penasehat utama Jokowi sejak tahun 2014. (bersanbung)

Senin, 08 April 2019

Berfikir Ilmiah Mencari Siapa Pemenang dalam Pilpres

Keoptimisan kemenangn dari melihat publikasi media dan akun sosial serta warga net dan keoptimisan kemenangan dari perambahan tim kepelosok desa. Dua strategi yang tengah berlangsung pada pilpres sekarang ini.
Membombardir tayangan dengan mulai dari ajakan, info tandingan sampai dengan nada menyerang pasangan capres lain dianggap sebagai suatu alat yang dapat mempengaruhi hati masyarakat. Sebaliknya terus menerus sosialisasi melalui tatap muka tim dan blusukan sianggap ampuh dan mengena hati pemilih.
Dua strategi itu sama-sama memiliki  manfaat bagi tim pemenangan capres dalam pemilu presiden tahun 2019 ini.
Pengguna alat komunikasi media dan akun sosial jaringan net memerlukan alat dan bea (pulsa) yang diprosentasikan hanya 3%-25 % dari seluruh jumlah hak pilih. Pengguna alat komunikasi (hp android) dengan filter kecerdasan minim yang banyak digunakan pemilih pemula di desa mempengaruhi atas pilihan mereka.
Perambahan tim ke kampung dan desa untuk pemenangan lebih efektif karena bertatap muka langsung. Perambahan tim ke kampung dan desa yang dibarengai pernyataan sikap lebih memberi kepercayaan tim.
Di sisi lain tradisi keluarga hormat kepada orang tua biasanya anak-anak dan keluarga usia hak pilih cenderung memgikuti kepala keluarga.  Sebuah keluarga biasanya cenderung untuk mempertimbangkan tradisi keturunan serta amanat yang diberikan pada generasinya. Semakin ortodok sebuah keluarga biasanya semakin militant sedang semakin modern sebuah keluarga dengan kedewasaan berdemokrasi dalam keluarga biasanya memberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya tanpa paksaan pada anggota keluarga.
Penganut agama selain agama Islam di Indonesia biasanaya cenderung memilih pilihannya pada yang dipercaya oleh mereka memberikan jaminan kerukunan beragama.
Kehidupan dan perubahan kehidupan diri seseorang maupun keluarga di masa kepemimpinan presiden lebih buruk atau lebih baik mempengaruhi pilihan capres. Sebuah proses berfikir sederhana dikarenakan faktor kesejahteraan pada masa tengah berlangsung pemilu sangat mempengaruhi.
Partai besar dengan anggota yang militan memilih partai dan presidennya satu paket terdapat pada PDI, Gerindra, PKS dan PKB sedang partai lain spt Golkar, Demokrat, lebih meberi keleluasaan terhadap pilihan capres dan mengutamakan pada calon legeslatif.
Khusus untuk pemilu presiden masa mengambang tidak saja terdapat pada pemilih pemula akan tetapi terdapat juga pada pemilih lanjutan atau dewasa.
Pilpres dengan lebih demokratis sekali sekarang ini adalah sebuah fenomena peningkatan rakyat Indonesia dalam menjalani kehidupan berpolitik.
(Rg Bagus Warsono sastrawan/budayawan tingal di Indramayu)

Minggu, 01 Juli 2018

Ambisi-ambisi yang Berantakan

Ambisi Megawati untuk menguasai suara Sumatera dengan memegang kunci Sumatera yaitu Sumatra Utara, akhirnya kandas. Tokoh kharismatik Djarot, dengan kemampuan bisa meraih suara dimanapun terjegal di Sumut.
Djarot yang setengah dipaksa (sengaja dipasang di Sumatera Utara utuk menggulung suara pada pilpres 2019) justru menghancurkan karier Djarot selama ini.
Di Jawa Megawati bersedih dengan gagalnya Syaifullah Yusuf dan tumbangnya pasangan Hasanudin-Anton. Tampaknya kehancuran tidak lagi menggerogoti kusen-kusen tetapi juga telah merapuhkan pondasi.
Jawa timur yang terbagi histories budaya dan juga peta politik 4 wilayah Marataman, Arek, Pandalungan dan Madura itu tak bisa dibaca PDI. Kekuatan Mataraman di berbagai kabupaten kota yang otomatis melekat dengan PDI dan Bung Karno, tak sanggup mengimbangi daerah Arek Pandulangan dan juga Madura yang merupakan gudang pondok pesantren lebih memihak Kofifah.
Puti yang bau kencur di PDI dan masyarakat luas baru mengenalnya akhir-akhir ini dipaksakan mendampingin tokoh Syaifullah Yusuf diharapkan dapat memenangkan pilkada dikarenakan merupakan putri Guntur Soekarnoputra itu tak menjadi harapan PDI. Daerah Mataraman yang erat dengan Bung Karno di Jawa timur yang cukup besar itu ternyata banyak yang memilih pindah dari historia masyarakatnya yang erat dengan Bung Karno yang nota bene PDI.
Ambisi Muhaemin Iskandar untuk mendampingi Jokowi dalam pilpres kini hanya lamunan, Bayangan Jawa dikuasai PDI kandas dalam pilkada.
Muhaemin dan Syaifullah Yusuf yang dititipkan Mendiang Gusdur ke Megawati sebagai keponakan-keponakan tersayang Gusdur, termasuk masa depannya pada Megawati itu, kini berakhir pasrah. Belum lagi di beberapa partai pendukung Jokowi telah pula menyiapkan kadernya seperti Erlangga Hartarto dari Golkar.
Partai Muhaimin PKB di Jawa hanya menang di Jawa Barat itupun tidak mengusung kadernya seperti PPP yang menempatkan kader sebagai wakil Gubernur mendampingi Ridwan kamil.
Sedang di Jatim, Kakak Kandung Muhaemin, Syaifullah yang berdampingan dengan Puti tak berdaya melawan Kofifah Indarparawangsa. Akankah Muhaemin akan terus berjuang untuk terus mencalonkan diri mendampingi Jokowi dalam pilpres, sepertinya semakin tipis saja.

Jumat, 19 Januari 2018

Ketika Partai-partai Kesulitan Cari Jago di Pilkada

Ada sesuatu yang lucu dalam perhelatan Pilkada Serentak 2018 ini. Sesuatu yang menjadi fokus pemberitaan kasus-kasus dalam penetapan calon gubernur, bupati atau walikota yang akan diusung oleh partai.

Yaitu minimnya stok kader partai partai bahkan terjadi pada partai besar untuk dipilih menjadi calon pemimpin daerah. Yang tampak di pemberitaan justru tampilnya beberapa calon dari yang diusung beberapa partai adalah figur yang tidak masuk dalam radar mastyarakat bahkan terkesan dadakan dan ujug-ujug.

Beberapa daerah dialami oleh beberapa partai yang tampak kesulitan mencari figur pimpinan daerah. Sebut saja misalnya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara.

Di Jabar, pasangan cagub dan cawagub baik partai pendukung pemerintah (PDIP, Golkar dan partai oposisi pemerintah (Gerindra, PKS dan PAN) sama-sama kesulitan mendapatkan figur dalam kader partainya. Mereka akhirnya tampak asal comot memilih jagoannya. Meski mereka bilang telah lama menggadang-gadang tetapi masyarakat baru mengetahui figur yang diusung partai besar itu.

Yang tampak kelihatan adalah Gerindra mencalonkan Sudrajat dari kalangan militer dan PDIP pun mencalonkan Anton Charyan dan TB Hasanuddin juga semua dari militer. Masyarakat umum memandang dua partai besar dengan pemilih kebingungan menentukan calon akibat kehabisan stok kader yang berprestasi.

Keadaan ini menjadi catatan tersendiri sebagaimana terjadi demikian itu, adalah bagaimana sistem pengkaderan belum maksimal kecuali dadakan. Kader yang setia bahkan beerprestasi sudah tidak dilirik sebagai aset partai, tetapi figur diluar kader dapat masuk dengan leluasa untuk tampil berlaga di pilkada.

Demikian Pilkada seperti sandiwara satu babak, bagaimana pemirsa terbawa alur sandiwara itu, tergantung apresiasi dari para pemirsanya, penonton pilkada rakyat Indonesia.


Empat Pasangan Cagub-Cawagub Jabar, Berpotensi Menang

Pertarungan Pilkada Jawa Barat dengan 4 pasangan cagub-cawagub bakal sepadan bersaing ketat. Peta kekuatan masing-masing pasangan tampak merata dan serba memiliki kemungkinan menang atau menyesali kekalahan.

UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada yang berbunyi:

Pasal 109 ayat 1 yang berbunyi:

Pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan sebagai pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur terpilih.

Jadi puncak acara Pilkada Serentak 2018 adalah 27 Juni mendatang saat pencoblosan. Yang mendapat suara terbanyak, dialah yang menjadi pemenang.

Undang-undang terbaru yang menyatakan Pilkada 1 putaran itu membuat kesempatan pilkada hanya 1 kali tampa babak fainal. Oleh karena itu kubu masing-masing pasangan akan bekerja keras merebut pemilik hak pilih di Jawa Barat.

Bukan tidak mungkin pemenang dari 4 pasangan cagub-cawagub itu adalah pasangan yang hanya 30 % suara diperoleh dalam pilkada itu, juka yang lainnya memperoleh dibawah 25 %.

UU yang tampak menghemat anggaran ini menjadi tidak berlaku lagi istilah 50% plus 1 suara itu menjadi pemenang di Jawa Barat, karena kemungkinan terlalu kecil untuk memperoleh itu jika 4 pasangan.

Tampaknya kacamata publik dapat diterka siapa pasangan memperoleh suara terbanyak kelak, namun semuanya belum pasti sebab semua memiliki khas menang.

Pertarungan pun akan tampak melalui pertarungan informasi dan media termasuk isu-isu dan saling tindih pendapat survai.



Sejauh Mana Peran Artis dalam Rebut Simpati di kampanye Pilkada

Bak tahun rezeki, bagi artis nasional dan daerah dalam perhelatan Pilkada. Bagaimanatidak tiap pasangan cagub-cawagub atau cabub-cawabub berebut artis untuk bertarung dalam kampanyenya.

Bagi artis itu sendiri ajang pilkada merupakan pengakuan masyarakat yang otomatis memelihara dan memantapkan popularitasnya, bahkan keuntungannya dapat honor sekaligus bertatap muka dengan masyarakat gratis.

Menjadi Juru Kampanye (Jurkam) atau pengisi hiburan kampanye atau apa saja sang artis menjadi daya tarik masyarakat untuk datang atau menyaksikan. Tidak semata-mata untuk mendengarkan program-program calon gubernur tepai lebih dari itu melihat penampilan artis secara langsung.

Jadilah artis menjadi rebutan para peserta pilkada. Di Jawa barat sendiri merupakan gudangnya artis Indonesia. Dari berbagai jenis seni seperti bintang film, artis sinetron, penyanyi sampai biduan dangdut. Mereka kebanjiran order team sukses pasangan calon gubernur atau bupati.

Namun tentu saja artis pun dipilih tingkat kecocokan dengan 'warna partai itu sendiri, bahkan ada yang sampai identik dengan warna partai tertentu dikarenakan kedekatan mereka dengan warna partainya.

Beberapa artis yang memiliki pengaruh luas di masyarakat memiliki peran pentuing dalam kampanye pilkada. Ia tidak saja sebagai alat untuk mengumpulkan masyarakat saat kampanye tetapi juga mampu mengajak masyarakat untuk memilih pada pasangan calon gubernur atau bupati yang dimana ia menjadi jurkamnya.

Tampaknya beberapa partai telah memiliki beberapa artis yang telah lama menjadi kader Partai. Sebut saja di Partai Amanat Nasional (PAN) diantaranya   Marissa Haque, Ikang Fawzi, Hengky Kurniawan, Lucky Hamzah, dan Raffi Ahmad, di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ada penyanyi Pasha Ungu. Di Partai Hanura ada Renny Djayusman, Iis Sugiyanto, di Partai Demokrat ada Venna Melinda, Inggrid Kansil dan Nurul Qomar.

Selanjutnya di  Partai Golkar ada Nurul Arifin dan Tantowi Yahya. Di Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), sebelumnya sudah ada Jamal Mirdad dan Rachel Maryam di Gerindra. Dan di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Edo Kondologit, Nico Siahaan, Sonny Tulung, dan Yessy Gusman.

Kini beberapa partai tengah mendekati beberapa artis untuk kepentingan kampanye dalam pilkada, akankah peran artis berpenhgaruh dalam perolehan suara mereka, kita lihat nanti. Tampaknya perhelatan pilkada akan lebih menarik dengan hadirnya artis-artis nasional kita.

Selasa, 09 Januari 2018

Akankah Militer Mampu Bertarung dalam Pilkada?

Agak sulit menempatkan militer dalam pilkada gubernur, mungkin belum saatnya masyarakat membutuhkan secara kebutuhan umum. Ada beberapa kendala yang harus disingkirkan selain paradigma dan trauma masyarakat. Tetapi tentu saja lain ladang lain belalang, militer berprestasi pun macam-macam karakter bahkan ada yang menjadi idola masyarakat. Sebagai contoh ketika seorang pimpinan militer membuat pernyataan keberpihakan masyarakat, kadang menjadi keberpihakan yang dilapisi kebanggaan masyarakat pada sosok militer yang diharapkan itu.

Masyarakat memandang setelah reformasi ini, ada sesuatu yang tersirat bahwa militer ditempatkan pada profesionalnya sendiri saat ini. Tetapi bukan berarti tidak diperlukan dalam memimpin daerah atau menjadi pimpinan nasional. Pada daerah-daerah tertentu merindukan pemimpin berlatar militer. Dan bukan mustahil Indonesia pada saatnya nanti butuh pimpinan dari latar belakang militer.

Ada beberapa kepala daerah yang berlatar militer dan berhasil sukses memimpin daerah justru setelah reformasi. Masyarakat mendukung penuh karena kejujuran dan ketegasannya. Masyarakat di desa  membutuhkan ketenangan dalam kesehariannya, jaminan keamanan , katrena anggapan pemimpin militer lebih menjamin keamanan warga.

Akankah militer mampu bertarung dalam pilkada tentu bagaimana mengemas untuk meraih simpati masyarakat daerah itu.

Minggu, 07 Januari 2018

Bersikukuhnya Romi, Ambisinya Dedi, Blondernya PDI, Bingungnya Ridwan Kamil, Percayadirinya Prabowo

Mengerucut sudah 4 pasangan Cagub dan Cawagub Jabar pada 7 Januari 2018 jelang esok harinya waktu pendaftaran pasangan cagub cawagub itu di KPU untuk memulai pertarungan baru. Hilang sudah desas desus, presdiksi pasangan, serta prediksi pengamat yang keblinger menghadapi dinamika 'mencari pasangan pilgub di Jawa Barat. Ibarat tukang ojek yang putar-puter cari penumpang, atau pasangan muda-mudi yang cari suami sitri akhirnya singah juga di gubuk dimana akan dibangun kekuatan agar mampu sukses meraih apa direbutkan sebagai gubenur Jawa Barat periode 2019-2023 itu.



Empat pasangan Cagub dan Cawagub itu adalah Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang diusung partai Demokrat dan Golkar dengan kekuatan 39 kursi dari hasil pileg lalu yaitu Demokrat 12 kursi dan Golkar 17 kursi. Pasangan Ridwan kamil dan UU Ruzhanul Ulum yang diusung Partai PPP, KPB, Nasdem dan Hanura dengan kekuatan 24 kuri dari pileg lalu yaitu PPP 9 kursi, KPB 7 kursi, Nasdem 5 kusri dan Hanura 3 kursi, Pasangan Sudrajat -Ahmad Syaikhu dengan kekuatan 23 dari hasil pileg lalu yaitu Gerinda 11 kursi dan PKS 12 kursi. Sementara partai yang belum menentukan pilihannya yaitu PAN dengan memiliki 4 kursi pada pileh lalu. Pasangan yang terakhir adalah pasangan TB Hasanuddin dan Anton Charliyan yang diusung PDIP sendiri dengan 20 kuris hasil Pileg lalu. Belum diperoleh kepastian PAN akan bergabung pada pasangan yang mana.



Hasil empat pasangan cagub dan cawagub Jabar itu berkan peran-peran menentukan elit-elit politik yang penuh dinamika dan perkembangan yang menegangkan.

Tak lepas hasil itu berkat bersikukuhnya Romi (Muhammad Romahurmuziy) sang ketua PPP yang ngotot agar kadernya UU Ruzhanul Ulum, Bupati Tasikmalaya untuk menjadi pendamping Ridwan Kamil yang membuat Ridwan Kamil bingung menetukan sang wakil mengingat partai koalisi pengusung dirinya juga mengajukan calon seperti PKB dengan mengajukian Maman Imanul Haq, dan Nasdem dengan Saan Mustofa, Kebimbangan Ridwan Kamil juga yang membuat mendatangi PDIP untuk mendapatkan dukungan dari Megawati.

Sementara Dedi Mulyadi yang sempat tak diusung Golkar dengan menggeser Daniel Mutaqien yang telah diusung Golkar, padahal Daniel Mutaqien memiliki suara besar di Pantura Jabar itu. Dedi Mulyadi mendapat peruntungan kasus Setya Novanto sehingga pergantian ketua DPP Golkar berimbas pergantian rekomendasi. Dedi pun akhirnya urung menjadi cagub dan hanya diusung menjadi Cawagub seperti Daniel Mutaqien sebelumnya.

Sementara Prabowo bersama PKS yang sempat mengusung Deddy Mizwar akhirnya memilih Sudrajat dengan cawagub dari PKS Ahmad Syaikhu.

PDI yang selama ini lebih memilih menunggu perkembangan akhirnya blunder juga untuk menentukan calonnya hingga kehadiran Ridwan Kamil yang sempat diisukan dicalonkan dari PDIP akhirnya batal dan lebih memilih kader internalnya takni TB Hasanudin yang ketua DPD PDIP Jabar dan cawagubnya Anton Charlyan.

Perkembangan jelang pendaftaran yang mulai akan dibuka oleh KPU pada besok 8 Januari akankah ada perubahan lagi, bisa mungkin. Politik itu dinamis seperti adonan martabak.
(Rg Bagus Warsono 07-01-18)

Sabtu, 06 Januari 2018

Ketika Partai Rebutan Kepala Daerah Berprestasi

Oleh : Rg Bagus Warsono
Penerima tanda kehormatan Satya Lencana Karya Bakti Praja Nugraha
1. Gubernur Kalimantan Timur periode 2008-2018 Awang Faroek Ishak
Hasil gambar


2. Bupati Karang Anyar Provinsi Jawa Tengah Priode 2013-2018 Juliyatmono
Hasil gambar


3. Bupati Banyuwangi Provinsi Jawa Timur periode 2010-2021 Abdullah Azwar Anas
Hasil gambar


4. Bupati Probolinggo Provinsi Jawa Timur periode 2013-2018 Puput Tantriana Sari
Hasil gambar


5. Bupati Kuningan Provinsi Jawa Barat periode 2013-2016 Alm Utje Choeriah.
Hasil gambar


6. Bupati Pati Provinsi Jawa Tengah periode 2012-2016 Haryanto
Hasil gambar untuk Bupati Pati Haryanto


7. Wali Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan 2014-2019 Mohammad Ramdhan Pomanto
Hasil gambar


8. Wali Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo 2014-2019 Marten Taha
Gambar terkait


9. Wali Kota Bandung 2013-2018 Muhammad Ridwan Kamil


10. Wali Kota Banjar Provinsi Jawa Barat periode 2013-2018 Ade Uu Sukaesih
Hasil gambar untuk Ade Uu Sukaesih

11. Wali Kota Bontang Provinsi Kalimantan Timur 2011-2016 Adi Darma
Hasil gambar untuk Adi Darma bontang

12. Wali Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat 2013-2018 Muhammad Muras
Hasil gambar untuk Walikota Sukabumi Mohamad Muraz




Adapun 27 kepala daerah, baik bupati, wali kota maupun gubernur se-Indonesia yang mendapatkan anugerah KDI 2017 antara lain:
Kategori pelayanan masyarakat:
1. Herwin Yatim, Bupati Banggai
2. Agus Ambo Djiwa, Bupati Mamuju Utara
3. JR Saragih, Bupati Simalungun
4. Prana Putra Sohe, Wali Kota Lubuk Linggau
5. Arief Rachdiono Wismansyah, Wali Kota Tangerang
6. Airin Rahmi Diany, Wali Kota Tangerang Selatan
7. Longki Janggola, Gubernur Sulawesi Tengah
Kategori Sosial Budaya:
1. OK Arya Zulkarnain, Bupati Batubara
2. Natsir, Bupati Demak
3. Mathius Awoitauw, Bupati Jayapura
4. Anwar Hafid, Bupati Morowali
5. Irsyad Yusuf, Bupati Pasuruan
6. Taufan Pawe, Wali Kota Parepare
Kategori Insfrastruktur dan Pembangunan:
1. Neneng Hasanah Yasin, Bupati Bekasi
2. Soekarwo, Gubernur Jawa Timur
Kategori Ekonomi dan Investasi:
1. Sambari Halim Radianto, Bupati Gresik
2. Danny Missy, Bupati Halmahera Barat
3. Soekirman, Bupati Serdang Bedagai
4. Ni Putu Eka Wiryastuti, Bupati Tabanan
5. Moch Anton, Wali Kota Malang
6. Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat
7. Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan
8. Moh Ramdhan Pomanto, Wali Kota Makassar
Kategori Lingkungan Hidup:
1. Mohamad Idris, Wali Kota Depok
2. Adam Rahayan, Wali Kota Tual
3. Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung
Kategori Tata Kelola Pemerintahan:
1. Moh Ramdhan Pomanto, Wali Kota Makassar
Penghargaan Kepala Daerah Inovatif 2017 merupakan salah satu komitmen MNC Group sebagai media terbesar se-Asia Tenggara, untuk membantu mewujudkan pemerintahan yang baik dan membantu rakyat untuk mencapai kemakmuran.

Rabu, 03 Januari 2018

Pilkada, Rebutkan 40 % Masa mengambang di Jabar

Hasil Pemilihan Anggota Legeslatif pada 2014 lalu di Jawa Barat dengan perolehan merata di setiap partai peserta pemilu legeslatif (tertinggi 20%) menandakan bahwa Masa mengambang di pilkada jabar 2018 ini dalam kisaran 40 % . Hasil ini dikuatkan dengan bukti bahwa keadaan politik di Jabar sallu berubah-ubah. Pada Pilkada jabar 2013 lalu, Calon Patahana yang tidak diunggulkan bisa menang di pilkada. Masa mengambang di Jawa Barat menjadi alasan begitu cepat berubahnya pasangan-pasangan calon gubernur dari beberapa koalisi sehingga menjadi bertambahnya masa mengambang di Jawa Barat. Grafik dinamika yang berubah-ubah itu membuat Jawa Barat menjadi arena pertarungan politik yang ramai saat ini.
Proses pendewasaan politik pada masyarakat di Jawa Barat belum mengalami kemajuan yang berarti. Tampak citranya masih menempatkan figur ketimbang gagasan. Pemilihan figur yang meliputi sosoh fisik, sifat (jujur, bijaksana, tegas, berwibawa dll), kemapuan,kepemimpinan, serta kepopulairan masih mendominasi pilihan masyarakat. Mereka ini adalah masa mengambang yang masih memiliki perilaku politik yang tidak mandiri (kurang stabil) dan gampang dipengaruhi. Masa mengambang yang banyak inilah yang akan menjadi rebutan partai-partai politik di Jawa Barat.
Masa yang menggantung cukup besar ini membuat banyak spekulasi, dugaan yang belum mendapat kenyataan, dari berbagai koalisi pilkada yang saat ini di Jawa Barat. Beberapa kecenderungan itu muncul manakala terjadi dinamika cepat politik di Jawa Barat. Beberapa proses tampak jelas terlihat seperti: sulitnya Ridwan Kamil mencari pasangan Cawabub, Terlihat pemaksaan' PPP untuk memasangkan cawabnya UU Ruzhanul Ulum mendampingi Ridwan Kamil, Ditariknya dukungan Golkar untuk Ridwan Kamil dan berganti Dedi Mulyadi, Batalnya dukungan PKS untuk Deddy Mizwar, Munculnya Sudrajat sebacai cabub dari Gerindra dan lain-lain yang semuanya belum dapat kepastian sampai dengan pendaftaran Cagub dan Cawagub di KPU pada 8-10 Januari 2018 nanti.(Rg Bagus Warsono, penyair tinggal di Indramayu)

Selintas tokoh Jabar menurut Pandangan Rg Bagus Warsono: (nomor bukan peringkat bobot)

1. Deddy Mizwar
Tokoh ini telah dikenal luas di seluruh Jawa Barat. Perannya sebagai Wakil Gubernur (2014-2019) yang mebidangi pendidikan dan budaya menjadikan lebih dikenal kalangan seniman dari berbagai unsur seni. Deddy Mizwar yang juga aktor film terkenal dan melejit lewat film-film laga (Seperti :Naga Bonar) telah dikenal baik oleh warga jawa Barat mereka yang berusia 40 th ke atas. Dalam menjalani tugasnya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat memiliki pemberitaan positif dengan sentimen positif masyarakat yang sangat tinggi.
2. Ridwan Kamil
Tokoh ini mulai dikenal luas semenjak 2015 dimana Bandung menjadi tuan rumah, Peringatan Konferensi asia Afika 2015. Namanya mulai menanjak saat itu atas keberhasilan penyelenggaraan event besar internasional itu dengan sukses. Dari tahun itulah tokoh ini mulai dikenal oleh nasional dengan berbagai kesuksesan lain atas kota yang dipimpinnya itu. Penyelenggaraan event-event internasuonal membawa harum tokoh ini. Terakhir Bandung sukses dalam penyelenggaraan Karnaval Kemerdekaan pada Agustus 2017 dan pada puncak Perayaan Hari Santri Nasional, pada Oktober 2017. Keberhasilan-keberhasilan itu membuat tokoh ini mendapat sentimen positif tidak hanya dari masyarakat Jawa Barat tetapi juga Nasional.
3. Dedi Mulyadi
Tokoh ini dikenal luas di Jawa barat mulai 2016 semenjak terpilih sebagai Ketua DPD Golkar Jawa Barat 2016-2021. kapasitas tambahan selainsebagai Bupati Purwakarta ini membuat ia dikenal oleh masyarakat diluar kabupaten Purwakarta. Tokoh ini berhasil membangun daerahnya dengan sentimen positif dari masyarakat Jawa Barat terutama dalam memandang pembangunan yang luar biasa di kabupaten Purwakarta. Tokoh ini pun mendapat penghargaan sebagai Teladan demokrasi sehingga tidak hanya anggota Partai Golkar mengenalnya di Jawa barat tetapi juga oleh partai politik lain.

Pilgub Jabar tak lepas dari Persaingan Jokowi - Prabowo Oleh : Rg Bagus Warsono,

Jawa barat begitu penting bagi kubu Pemerintah dan Oposisi dalam hal ini Jokowi-Kalla dan Prabowo. Jawa Barat dengan jumlah hak pilih terbanyak (23, 8 jt pemilih /KPU) merupakan penentu suara pemilihan Presiden dan kemenangan pemilu Legeslatif 2019. Maka wajar apabila Pilkada Jabar menjadi perhatian serius bagi dua kubu itu, untuk dapat mendudukan orangnya sebagai Gubernur di propinsi penentu Pilpres tersebut.
Keseriusan dua kubu tersebut dapam pemenangan Pilkada jabar menjadikan arah politik Pilkada jabar akhir-akhir ini menjadi tak menentu dan sulit ditebak. Sebab peran-peran pucuk pimpinan partai sangat menentukan dalam pemilihan cagub dan cawagub Jabar yang akan berlaga pada Juni 2018 tersebut.
Dinamika yang diperankan tokoh-tokoh DPD-DPD Partai di Jawa barat hanya merupakan peluru-peluru sebagai penilaian awal bagi para elit di DPP partai-partai peserta pelkada di Jabar itu. Kejadiannya sungguh membuat publik Jawa Barat sempat dibuat bingung. Hal demikian dikarenakan berbagai kebijakan yang telah diluncurkan dan bahkan dideklarasikan belum berarti hal yang sudah pasti. Akhirnya masyarakat memahami bahwa kepastian pasangan-pasangan Cagub dan Cawagub bagi yang diusung oleh partai peserta Pilkada Jabar itu apabila telah mendaftar di KPU yang akan dimulai pada 8-10 Januari 2018 yang akan datang.
Pasal 5 Ayat 2 PKPU itu menyebutkan bahwa partai politik atau gabungan partai politik bisa mencalonkan jika punya paling sedikit 20 persen kursi di DPRD, atau 25 persen dari akumulasi perolehan suara sah di pileg terakhir.
Masyarakat dapat menilai partai-partai yang harus mengadakan koalisi agar dapat mengusung calonnya. Besar kecilnya perolehan kursi DPRD pada pileg terakhir membuat besar kecilnya peran yang diberikan pada partai-partai itu menjelang pendaftaran pasangan cagub dan cawagub. Seperti diperlihatkan Partai Nasdem dan Partai Hanura dengan perolehan suara kurang dari cukup di DPRD Jawa Barat ini, partai tersebut libih pada mendukung ketimbang mengusung calon sendiri.
Hak perogatif ketua DPP partai-partai di Indonesia yang memegang nama nama calon Gubernur dan calon wakil gubernur sekan membelenggu demokrasi yang justru dilakukan oleh partai itu sendiri. Bagaimana tidak keinginan DPD atau Cabang di daerah terkadang tak direspon oleh Ketua DPP yang memgang hak perogatif itu.
Dari semua itu apalagi perkembangan politik terkini, di tingkat elit partai sama-sama memiliki kepentingan yang lebih besar. Partai-partai pendukung pemerintah seperti PDIP, Golkar otomatis memperhatikan Joko Widodo yang pada 2019 akan mencalonkan kembali. Sedang partai-partai oposisi perti Gerindra, PAN dan PKS memperhatikan komando Prabowo Subianto yang juga adalah Ketua Umum Partai Gerindra.
Pilkada Jabar tampaknya seperti drama atau sandiwara para elit politik, peran-peran DPD hanyalah lauk tambahan di meja makan seperti krupuk, sambel lalab dan buah-buahan.
(Rg Bagus Warsono, penyair tinggal di Indramayu)

Senin, 10 November 2014

Warga Indramayu Mari Barsama-sama Siaga Banjir di Musim Hujan

Oleh Rg Bagus warsono

Tahun 2013 lalu Indramayu termasuk salah satu daerah yang juga tertimpa musibah banjir. Banjir di Indramayu tahun 2013 lalu bukan dikarenakan jebolnya tanggul sungai Cimanuk seperti tahun 1970-an namun dikarenakan curah hujan yang tinggi dalam bulan terakhir tahun 2013. Akibat curah hujan yang tinggi ini mengakibatkan tergenangnya air di beberapa daerah sehingga banjir tak dapat dihindari.
   Sebetulnya Pemerintah Kabuopaten Indramayu di bawah kepemimpinan Hj. Annah Shopanah telah meneruskan upaya-upaya dan program ketika Bupati H irianto MS Syafiuddin terbukti telah membangun berbagai penanggulangan banjir khususnya di kota Indramayu seperti telah dibangunnya saluran air yang cukup memadai bagi daerah kecamatan kota. Sehingga air dapat mengalir dan menuju sungai pembuangan air pintas.
   Namun demikian pembangunan saluran air yang cukup banyak ini belumlah dimanfaatkan oleh masyarakat dengan kesadaran pemeliharaan. semuanya justru dibebankan pada Pemerintah Kabuipaten UIndramayu. pasdahal pemeliharaan fasilitas umum juga menjadi tanggung jawab warga.
   Banyak solokan-solokan mampet dikarenakan warga membuyang sampah seenaknya atau membuah bekas pembangunan rumah seenaknya sehingga banyak tanah menutup got dan sololakn umum. Jika demikian maka apabila terjadi hujan besar maka dalam beberapa jam saja air sudah menggenang dan jika hujan itu cukup lama maka terjadi banjir.
    Menghadapi musim hujan sekarang ini mari kira warga masyarakat Indramayu untuk mewaspadai bahaya banjir di lingkungan kita. Untuk itu perlu siaga banjir di setiap linglingan warga didirikan agar banjir tak terjadi di lingkungan kita semua.
    Siaga banjir warga perlu digalakan mulai sekarang ini dengan membersihkan solokan yang mampet agar air dapat mengalir, membuka saluran air agar air tak tersumbat. Memperdalam solokan uyang dangkal akibat sampah yang menumpuk di solokan, dan lain-lain upaya menghadapi banjir tahun ini.
   Jadi hal mengenai siaga banjir ini tidak hanya merupakan tanggung jawab Pemda Indramayu tetapi juga tanggung jawab warga Indramayu semua.
  

Rabu, 17 September 2014

Kamididing dan Musim Kembang Mangga

Mangga Indramayu mulai berbunga dan mulai menjadi bakal buah. Ditandai dengan musim dingin angin malam. Orang Indramayu menyebutnya musim 'kamididing' Angil laut yang berhembus kedarat di daerah Indramayu. Semilirnya angin seiring dengan mekarnya bunga-bunga pohin buah mangga dan mulai sat itu pentil (bakal buah) mangga membesar. Bakal buah yang begitu banya setangkai akan rontok dengan sendirinya tetapi menyisakan satu, dua, tiga, empat atau lebih banyak buah mangga yang makin membesar. 

Kamis, 26 Desember 2013

Sentra Industri Kerajinan Khas Kabupaten Indramayu Perlu Promosi Sebagai Daya Tarik Wisatawan

Di Kabupaten Indramayu sentra Industri Kerajinan masih tergolong kedaerahan, dimana daerah pusat industri kerajinan tampak hidup secara trdisional tanpa dorongan peningkatan promosi sebagai daerah wisata belanja masyarakat.
Sebetulnya banyak sekali di Indramayu sentra Industri Kerajinan tradisional seperti Batik Paoman di desa Paoman kec.Indramayu, Anyaman bambu di Rambatan kecamatan Lobener, kerajinan Sabut Kelapa di Blok Gribig Lempuyang kec. Anjatan, Terasi, kulit dan gesek Ikan di desa Brondong kec. Indramayu, Emping melinjo di Karangampel, gerabah di desa Anjun kec. Kandanghaur, dan kerupuk di desa Kenanga kec. Indramayu.
Dukungan promosi dan bantuan pembinaan daerah itu sebagai daerah kunjungan wisata dari pemerintah perlu ditingkatkan. Mereka tidak saja harus diberikan sebagai binaan usaha , tetapi juga promosi daerah.
Potensi kerajinan yang banyak terdapat di Indramayu sebetulnya adalah aset daerah yang sangat besar. Jika dibiarkan boleh jadi nanti terasi Indramayu yang sedap rasanya itu dikirim ke daerah lain dan diberi label/cap di luar daerah. Atau kerupuk kulit ikan dan gesek bilis yang gurih itu menjadi kepunyaan daerah lain dengan kemasan dari perusahaan di daerah lain.
Batik Paoman di Kabupaten Indramayu merupakan peninggalan nenek moyang Indramayu yang memiliki pengetahuan tinggi mengenai batik paoman. Keberadaannya patut dilestarikan dari mulai cara pembuatan, ilmu batiknya, maupun sejarahnya. Batik poman tercatat di Negeri Belanda sebagai batik kuna yang sejajar dengan seni batik lainnya seperti di batik Pekalongan, Solo, Jogyakarta, Trusmi dan seni batik terkenal lainnya. Bahkan Kembang Kapas adalah corak batik Paoman yang termashur di dunia.

Senin, 23 Desember 2013

Perlu Wakil Indramayu di DPR RI dari yang Telah Terbukti Komitment

Ada beberapa alasan pentingnya wakil dari Indramayu yang mampu membawa aspirasi masyarakat agar Indramayu tidak tertinggal. Sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Indramayu agar pemerintah pusat tidak 'klalen' (lupa) akan Indramayu. Tentu harus ada yang mewakili di sana. Kepercayaan masyarakat Indramayu kini tertuju pada sosok H Daniel Mutaqien Syafiuddin, ST seorang yang memiliki komitment tinggi apabila mendapat amanat rakyat. Hal demikian dibuktikan Daniel sampai saat ini sebagai Anggota DPRD Propinsi Jawa Barat. Ia memberikan masukan-masukan penting terhadap pemerintah Propinsi akan nasib Indramayu.
Sebagai contoh keberhasilan Daniel itu berupa upaya menggolkan jalan-jalan propinsi untuk segera diperbaiki kembali seperti jl Patrol -Haurgeulis-Subang.
(rg Bagus Warsono)


The and

The and